Tampilkan postingan dengan label Hikmah Hari Ini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah Hari Ini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Desember 2008

Ditilang Polisi , dan Polisi itu temenku

Cerita ini dari milis klubtmi98uii:

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala
hijau.
Jono segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat.
Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah
biasanya menyala cukup lama.
Kebetulan jalan di depannya agak lengang. Lampu berganti kuning.
Hati Jono berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera.
Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala.Jono bimbang,
haruskah ia berhenti atau terus saja.
"Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak," pikirnya
sambil terus melaju.

Priiiit!


Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya
berhenti.
Jono menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati.
Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu
asing.
Hey, itu khan Bobi, teman mainnya semasa SMA dulu.
Hati Jono agak lega.
Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.
"Hai, Bob.. Senang sekali ketemu kamu lagi!"
"Hai, Jon." Tanpa senyum.
"Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru.
Istri saya sedang menunggu di rumah.."
"Oh ya?"
Tampaknya Bobi agak ragu. Nah, bagus kalau begitu.

"Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan
segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong."
"Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu
melintasi lampu merah di persimpangan ini."

Oooo, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jono harus ganti
strategi.

"Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu
merah.. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala."

Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.

"Ayo dong Jon. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu."

Dengan ketus Jono menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan
menutup kaca jendelanya.
Sementara Bobi menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat
kemudian Bobi mengetuk kaca jendela.
Jono memandangi wajah Bobi dengan penuh kecewa.Dibukanya kaca jendela
itu sedikit.
Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa
berkata-kata Bobi kembali ke posnya..
Jono mengambil surat tilang yang diselipkan Bobi di sela-sela kaca
jendela.
Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota.
Kenapa ia tidak menilangku.
Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jono membuka
dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bobi.

"Halo Jono, Tahukah kamu Jon, aku dulu mempunyai seorang anak
perempuan.
Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos
lampu merah.
Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas, ia bisa
bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi.
Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada.
Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan
mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk.
Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya.
Begitu juga kali ini.. Maafkan aku Jon. Doakan agar permohonan kami
terkabulkan. Berhati-hatilah. (Salam, Bobi)".

Jono terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bobi.
Namun, Bobi sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana.
Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu
sambil berharap
kesalahannya dimaafkan... ....

************ ****

Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain.
Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita.
Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati.

Drive Safely Guys..

Baca Selengkapnya......

Kamis, 22 Mei 2008

Teman Lama

Alhamdulillah bisa nulis lagi....
Kali ini pengen cerita soal teman lama yang udah lama gak ketemu. Dulu, waktu awal" di Bandung aku langsung punya warung tenda favorit, Tenda Milan namanya yang terletak di Simpang Dago.

Kenapa aku suka warung ini ?
Coz selain masakannya yang sedap, terutama ayam rica-rica nya, teteh yang jualan juga cantik dan ramah. Jadi, kalo nungguin ayamnya dimasak,aku suka ngobrol" ama teteh-nya. Kita sebut aja namanya Teh Milan ya....Ketika awal aku ketemu teh Milan, yang terbayang di kepalaku adalah teh Milan pasti suaminya tajir, secara tetehnya cantik banget. Dan pasti teh Milan jualan cuma buat nyalurin hobi dagang aja, tapi gak niat dapatin keuntungan. Tapi,selama ngobrol ama si teteh, gak pernah sekalipun aku dengar cerita tentang suaminya. Ini bikin aku sibuk menduga-duga, jangan" teh Milan gak punya suami, makanya dia jualan, ato jangan" teteh ini 'kecelakaan' (karena dia dah punya anak yang cuantik buanget) tapi gak married jadilah untuk menopang hidup dia jualan. (Duh...jahat banget ya pikiranku....!!)

Tapi, ternyata itu semua salah besar....
Ternyata, Teh Milan suaminya sering kerja di luar kota jadi sering ninggalin keluarga,makanya tetehnya tinggal dekat dengan tempat tinggal ibunya. Terus, tetehnya itu sebenarnya asli Bandung tapi suaminya orang Sulawesi, makanya dia bisa bikin ayam rica-rica. Lalu,mereka tuh keluarga sederhana sehingga untuk bantuin suaminya + biar gak nganggur di rumah,teteh itu jualan di Simpang Dago. Padahal teh Milan kalo jualan sendirian lho dan sekalian ngemong anaknya yang masih berumur sekitar 4 tahun gitu. Hebat ya beliau.....
Dulu, aku selalu mengira orang cantik pasti suaminya tajir coz biasanya cowok tajir nyarinya yang cantik" dan yang cantik nyari cowok yang tajir biar bisa manikur, pedikur, tekukur...... Ini memang pengaruh dari pandangan masyarakat yang ngaco bin ajaib yang seringkali dijadikan peraturan tidak tertulis (baca : norma) yang berlaku di masyarakat. Tapi, ternyata tidak terbukti tuh, contohnya Teh Milan ini....
Teh Milan itu cantik banget dan kelihatan kayak masih gadis padahal udah punya anak 1. Mungkin dulu ada banyak kumbang yang deketin beliau dan ternyata jadinya ama suaminya yang sekarang. Padahal mungkin kalo Teh Milan mau, dia bisa dapatin suami yang cakep sekaligus berkecukupan...... yach.... yang kalo mo' beli mobil cukup uangnya, mo' beli rumah cukup uangnya, mo' umrah dan naik haji, juga cukup. He...he....(kok...rasanya garing ya....?)

Yach....itulah yang dinamakan jodoh kali ya ? Mo kita bermimpi kayak apa juga, tetep aja kalo jodohnya yang itu, ya...dapatnya yang itu juga. Itulah yang namanya Qadha Allah.

Ngomong" soal Qadha Allah, cerita Teh Milan tadi ada lanjutannya lagi. Nah, waktu aku semester 2, Teh Milan tiba-tiba bilang kalo dia ditawarin orang untuk jualan di Gerlong. Jadi,modal awal dikasih ama tuh orang, Teh Milan cuma tinggal jalanin aja. Bahkan Teh Milan dikasih pegawai 3 biji....eh ..... 3 orang...
Jadi Teh Milan bakal pindah ke Gerlong biar makin lancar. Lagipula Teh Milan bakal dikasih paviliun jadi gak perlu mikirin biaya sewa lagi. Ya udah deh..... berarti aku harus nyari tempat maem yang lain kalo' gitu.
Lalu, setelah 1 tahun,tiba-tiba aku liat ada Tenda Milan lagi di Simpang Dago. Nama yang sama, tempat yang sama, bahkan menunya juga sama. Jangan-jangan......
Bener, ternyata Teh Milan balik lagi. Akhirnya,menu favoritku ada lagi, habisnya susye banget nyari ayam rica-rica yang enak. Setelah kangen-kangenan, mengalirlah cerita Teh Milan. Jadi, Teh Milan emang dikasih modal ama orang untuk running warung yang ada internet-nya, lalu dikasih pegawai 3 orang, dikasih paviliun n banyak kemudahan lainnya. Awalnya sih rame tuh warung, tapi lama" makin sepi coz promosinya gak gencar + tidak ada palang yang nunjukkin kalo selain ada internet ada warung di situ. Akhirnya setelah berjuang 1 tahun, Teh Milan memutuskan untuk balik aja lagi ke Simpang Dago coz sebenarnya kondisinya sama aja. Malah lebih baik di Simpang Dago coz dekat ama ortunya + gak beban mikirin modal orla yang harus dibalikin tiap harinya.

Itulah, walaupun kita sudah berusaha sekuat tenaga, tetap Allah juga yang penentu 'kebijakan'. Ketika Allah berkehendak, maka jadilah. Kun fayakun. Tapi, justru itulah yang membuat manusia 'membumi'. Jadi, walaupun mimpi udah setinggi langit tapi ketika Allah tdk berkehendak, ya... tidak akan terjadi. Dan itu mencegah manusia untuk merasa superior, bahwa manusia punya batasan, punya banyak kelemahan dan gak punya kuasa apapun sama hidupnya. Tapi, tetep manusia berkewajiban untuk berusaha semampu dia bisa. Masalah hasil, itu hak Allah buat ngasih. Makanya yang ntar di mintai pertanggung jawaban tuh usahanya, bukan hasilnya. Gak bakal Allah nanya,
"Kenapa IPK kamu cuma 3.5 kok gak 4 sekalian ?"
Ato....
"Kenapa kamu cuma dapatin duit 10.000 hari ini ? Seharusnya kan bisa dapat 100.000 ?"
Tapi, yang bakal ditanyain tuh:
"Gimana cara kamu dapatin IPK 3.5 ? Nyontek ya ?"
Ato....
"Dapat duit 1.000.000 darimana ? Goyang ngebor ya ?"
kira-kira gitu deh....

Karena itulah Allah kasih aturan biar kita, manusia-manusia lemah ini, bisa milih mau pake jalan yang mana. Mau jalan yang mulus tapi akhirnya sengsara ato jalan yang berbatu, terjal tapi akhirnya happy forever ?
Tapi, bukan berarti tujuan gak penting lho ya.... Penting punya cita-cita setinggi langit, tapi kalo gak kesampaian, ya udah gak usah pake menangis darah, meraung-raung, guling-gulingan di jalan (Busyet....dashyat banget ya...!). Tawaqalillah aja. Ikhlas di awal, tengah dan akhir perbuatan. InsyaAllah, hidup kita bakal tenang, aman, ceria, bahagia, selamat sentosa hingga akhir masa.....Horeee.....

Cukup sekian..........

Baca Selengkapnya......

Senin, 25 Februari 2008

Artikel Taufik Ismail tentang Krismansyah Rahadi (Chrisye)

Kisah ini saya dapatkan dari seorang teman di ITB. Kisah ini benar adanya dan di muat di biografi Chrisye :
Penyair Taufiq Ismail menulis sebuah artikel tentang Krismansyah Rahadi (1949-2007) di majalah sastra HORISON.Krismansyah Rahadi (1949-2007): KETIKA MULUT, TAK LAGI BERKATA
TaUFIQ ISMAIL
Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, "Bang, saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?" Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan mesti selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang lain, deadline sebulan itu bolehlah. Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi relijius. Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul. Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan. Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, " Chris, maaf ya, macet. Sori." Saya akan kembalikan pita rekaman itu. Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin.
Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi,
A'udzubillahi minasy syaithonirrojim. "Alyauma nakhtimu 'alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu yaksibuun" saya berhenti. Maknanya, "Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan." Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa!
Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke larik-larik lagi tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa masuk pas ke dalamnya. Bismillah. Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai. Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.
Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon," Chris, alhamdulillah selesai". Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik tersebut. Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali. Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye ? Sebuah Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye: Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir. Saya coba lagi. Menangis lagi.Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki Berkata. Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya. "Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65..." kata Taufiq. Ia menyarankan saya untuk
tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!
Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya. Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai. Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu,
itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang! Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari!
Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benarbenar meluluhkan perasaan. Itulah
pengalaman batin saya yang paling dalam selama menyanyi. Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat kelak.
Mengenai menangis menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.
* * *
Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut. "Kenapa Bang, kurang?" Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya. Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya, tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar. "Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun 'kan?"
Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye saya terima.
Chrisye senang, saya pun senang.
* * *
Pada subuh hari Jum'at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk rumah sakit, termasuk berobat di
Singapura. Diagnosis yang mengejutkan adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album sountrack, 20 album solo dan 2 filem. Semoga penyanyi yang lembut hati dan pengunjung masjid
setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang amal
salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga
terbuka lebar baginya. Amin. #
Ketika Tangan dan Kaki Berkata
Lirik : Taufiq Ismail
Lagu : Chrisye
Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita
Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba
Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya.... sempurna
Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu yang hina
1997

Baca Selengkapnya......